Transisi Energi Bisa Buka 700 Ribu Pekerjaan Hijau serta Investasi Rp1.682 Triliun

Senin, 09 Februari 2026 | 12:07:34 WIB

JAKARTA - Transisi energi di Indonesia kini bukan sekadar jargon untuk menurunkan emisi, melainkan peluang nyata yang bisa menciptakan jutaan lapangan pekerjaan dan menarik investasi besar ke tanah air. Dalam beberapa tahun mendatang, langkah strategis pemerintah dan pelaku industri dalam mengembangkan energi bersih diprediksi berdampak luas bagi sektor tenaga kerja, ekonomi, dan kesiapan sumber daya manusia.

Mendorong Ekonomi Hijau melalui Transisi Energi

Pemerintah Indonesia telah menegaskan bahwa transisi dari sumber energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) akan menjadi motor utama untuk membuka peluang kerja baru di berbagai sektor. Menurut laporan terbaru, program transisi energi ini diproyeksikan bisa membuka sekitar 700 ribu hingga 760 ribu lapangan pekerjaan hijau (green jobs) yang berkaitan langsung dengan pengembangan energi bersih.

Green jobs sendiri mencakup berbagai jenis pekerjaan yang berkaitan dengan energi bersih — mulai dari tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pembangunan fasilitas energi baru, operasi dan pemeliharaan pembangkit energi, hingga industri manufaktur komponen energi terbarukan. Pemerintah menilai bahwa potensi ini tidak hanya akan mendukung penurunan emisi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

“Transisi energi tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja nasional dan transformasi industri menuju ekonomi hijau,” demikian yang diungkapkan oleh Wakil Menteri ESDM dalam pernyataannya baru-baru ini.

Investasi Masif dan Keterlibatan Beragam Sektor

Selain penciptaan lapangan kerja hijau, agenda transisi energi juga diproyeksikan menarik investasi hingga Rp1,682 triliun di berbagai proyek EBT dan infrastruktur terkait. Besarnya dana yang mengalir ke sektor energi bersih ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bersiap memperkuat peranannya dalam ekosistem energi global yang rendah karbon.

Investasi tersebut bukan sekadar angka besar di atas kertas. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan teknologi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan seperti surya, angin, dan sumber energi lokal lainnya, serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti jaringan transmisi, gardu induk, hingga fasilitas manufaktur komponen energi.

Kolaborasi antara sektor publik dan swasta dipandang menjadi kunci untuk merealisasikan seluruh potensi ini. Pemerintah pun mendorong skema pembiayaan inovatif seperti blended finance agar proyek-proyek energi bersih semakin bankable dan menarik minat lebih banyak investor domestik maupun asing.

Peluang Tenaga Kerja Baru di Seluruh Tahapan Proyek

Pemangku kepentingan energi nasional menjelaskan bahwa penciptaan kesempatan kerja ini tidak hanya terjadi dalam sekali fase, tetapi menyebar sepanjang siklus proyek energi bersih. Mulai dari perencanaan awal (pra-konstruksi) hingga operasional rutin, setiap tahapan mempunyai kebutuhan tenaga kerja yang berbeda.

Misalnya, dalam tahap perencanaan dan desain, dibutuhkan tenaga ahli teknik, analis lingkungan, dan perencana proyek. Selanjutnya, di masa konstruksi, akan ada permintaan besar tenaga teknisi, insinyur, operator alat berat, serta pekerja terampil lainnya yang ikut membangun infrastruktur fisik seperti pembangkit listrik terbarukan.

Begitu fasilitas tersebut selesai dibangun, fase operasi dan pemeliharaan akan membutuhkan tenaga yang mahir mengelola sistem energi bersih, menganalisis data produksi listrik, serta memastikan seluruh fasilitas berjalan optimal. Di sisi lain, pekerjaan di sektor manufaktur komponen energi juga akan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan global terhadap teknologi bersih.

Perubahan Keterampilan SDM dan Tantangan yang Ada

Walaupun potensi penciptaanratusan ribu pekerjaan terbuka lebar, pemerintah dan pelaku industri juga menyoroti bahwa pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kesiapan tenaga kerja — baik dari segi keterampilan teknis maupun pemahaman teknologi baru — menjadi salah satu faktor kunci agar peluang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu, berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi pendidikan serta dunia usaha terus didorong untuk memastikan pekerja nasional siap menghadapi tuntutan profesi di sektor energi baru. Fokusnya tidak hanya pada tenaga teknik, tetapi juga pada tenaga pendukung seperti manajemen proyek, pengoperasian perangkat EBT, serta layanan purna jual.

Pemerintah juga tetap menyadari bahwa green jobs bukan satu-satunya faktor penting dalam agenda transisi energi. Tantangan pendanaan, kesiapan teknologi, serta regulasi yang adaptif tetap menjadi objek perbaikan berkelanjutan agar target transisi energi nasional dapat tercapai tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Menggabungkan Keberlanjutan, Ekonomi, dan Keadilan Sosial

Pada akhirnya, transisi energi Indonesia dirancang bukan hanya sebagai upaya untuk mencapai target lingkungan — seperti emisi yang lebih rendah — tetapi juga sebagai strategi ekonomi yang inklusif, menciptakan peluang kerja luas, dan mengangkat kualitas hidup masyarakat. Keterlibatan tenaga kerja dari berbagai latar belakang diharapkan dapat membuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan lebih merata di seluruh wilayah.

Transisi energi yang berjalan dengan sinergi pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat diyakini mampu membuka jalan bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari revolusi energi bersih global. Dengan begitu, penciptaan ratusan ribu lapangan kerja bukan hanya sekadar angka ambisius, tetapi gambaran nyata dari masa depan energi yang lebih adil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Terkini