AFPI Lihat Peluang Pertumbuhan Fintech Lending Masih Terbuka Lebar 2026

Jumat, 06 Februari 2026 | 11:29:02 WIB
AFPI Lihat Peluang Pertumbuhan Fintech Lending Masih Terbuka Lebar 2026

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan perilaku keuangan masyarakat, industri teknologi finansial masih menunjukkan optimisme untuk terus bertumbuh. 

Sektor pembiayaan berbasis digital dinilai tetap memiliki ruang ekspansi yang luas, terutama dalam menjangkau kelompok masyarakat yang belum terlayani layanan perbankan konvensional. 

Optimisme tersebut tercermin dari proyeksi Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) terhadap kinerja pembiayaan fintech lending pada tahun 2026.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksikan kinerja outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) masih bisa tumbuh tinggi pada 2026. 

Proyeksi ini didasarkan pada berbagai faktor struktural yang masih menopang pertumbuhan industri, mulai dari kebutuhan pembiayaan masyarakat hingga karakteristik segmen yang dilayani oleh platform pindar.

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat AFPI Kuseryansyah menilai permintaan terhadap layanan pindar masih kuat, khususnya dari kelompok masyarakat yang belum memiliki akses optimal ke layanan perbankan formal. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu pendorong utama keyakinan AFPI terhadap keberlanjutan pertumbuhan industri pindar di tahun mendatang.

Segmen Unbanked Masih Menjadi Motor Pertumbuhan

Kuseryansyah menyebut salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan pembiayaan fintech lending adalah tingginya jumlah masyarakat yang masuk dalam kategori unbanked. Segmen ini mencakup masyarakat yang belum memiliki rekening bank maupun akses kredit formal, namun memiliki kebutuhan pembiayaan yang nyata dalam aktivitas sehari-hari.

"Apalagi pinjaman daring segmen yang dilayani itu unbanked dan segmen unbanked di Indonesia itu tinggi, termasuk orang-orang yang dalam kategori first jobber atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang baru. Jadi, kami meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi," ungkapnya.

Menurut AFPI, karakteristik layanan pindar yang fleksibel, berbasis teknologi, serta relatif mudah diakses menjadikannya solusi pembiayaan alternatif bagi kelompok first jobber dan UMKM pemula. 

Kelompok ini kerap belum memenuhi persyaratan perbankan, namun memiliki potensi ekonomi yang dapat berkembang apabila didukung akses pembiayaan yang tepat.

Potensi Tumbuh di Atas Kredit Nasional

Selain tingginya permintaan dari segmen unbanked, AFPI juga melihat peluang pertumbuhan pembiayaan pindar pada 2026 dapat melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional. 

Hal ini sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan nasional berada di kisaran 10% hingga 12% pada tahun depan.

"Kami juga meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yang ditargetkan sekitar 10% sampai 12%," tuturnya.

Kuseryansyah menilai fleksibilitas model bisnis fintech lending menjadi salah satu keunggulan utama dibandingkan lembaga keuangan konvensional. Platform pindar dinilai lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi kondisi ekonomi yang dinamis.

Selain itu, penggunaan teknologi dalam proses penilaian kredit memungkinkan perusahaan fintech lending untuk menjangkau segmen yang selama ini sulit diakses oleh bank, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian yang ditetapkan regulator.

Tantangan Industri Masih Membayangi

Meski optimistis terhadap pertumbuhan, AFPI tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang akan dihadapi industri pindar pada 2026. Kuseryansyah mengakui kondisi geopolitik global masih berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi, termasuk sektor jasa keuangan berbasis digital.

Selain faktor eksternal, tantangan lain yang masih menjadi perhatian adalah tingkat literasi masyarakat terhadap layanan pindar. Rendahnya pemahaman mengenai risiko dan manfaat produk fintech lending dinilai dapat memicu penggunaan layanan yang kurang bijak.

Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan menjadi agenda penting yang terus didorong oleh AFPI bersama seluruh anggotanya. Edukasi dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan industri berjalan seimbang dengan perlindungan konsumen.

Edukasi dan Literasi Jadi Fokus AFPI

AFPI menyampaikan bahwa asosiasi bersama para anggotanya akan terus melakukan edukasi dan literasi ke berbagai daerah sepanjang 2026. Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan layanan pindar secara tepat guna dan bertanggung jawab.

"Kami di asosiasi akan terus melakukan edukasi dan literasi. Kami sudah punya banyak sekali jadwal roadshow ke daerah-daerah. Harapannya dengan literasi tinggi, para pengguna muda bisa menggunakan platform pindar lebih tepat guna, rasional, dan tidak cuma untuk coba-coba," kata Kuseryansyah.

Melalui program literasi tersebut, AFPI berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan dalam memanfaatkan pembiayaan digital. Dengan demikian, risiko gagal bayar dapat ditekan, sekaligus menjaga keberlanjutan industri pindar dalam jangka panjang.

Kinerja Industri Tetap Terkendali

Dari sisi kinerja, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan industri fintech P2P lending masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga. OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025. Nilai tersebut tumbuh sebesar 25,44% secara year on year (YoY).

Pertumbuhan tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan pembiayaan melalui platform pindar, sekaligus menunjukkan kontribusi fintech lending dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Peningkatan pembiayaan ini juga sejalan dengan upaya inklusi keuangan yang terus didorong oleh regulator.

Sementara itu, OJK mencatat tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Desember 2025 masih dalam kondisi terjaga dengan angka sebesar 4,32%. Angka tersebut menunjukkan bahwa risiko pembiayaan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.

AFPI menilai capaian ini menjadi indikator penting bahwa pertumbuhan industri pindar masih diiringi dengan pengelolaan risiko yang memadai. Ke depan, asosiasi bersama regulator akan terus mendorong penerapan prinsip kehati-hatian guna menjaga stabilitas industri.

Dengan kombinasi permintaan yang kuat, segmen pasar yang luas, serta penguatan literasi keuangan, AFPI optimistis pembiayaan fintech lending masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid pada 2026, meski tantangan tetap perlu diantisipasi secara berkelanjutan.

Terkini