Sinergi Keuangan Syariah Berkelanjutan Dorong Pendalaman Pasar Nasional

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:37:24 WIB

JAKARTA — Pengembangan keuangan syariah berkelanjutan kini semakin dipandang sebagai strategi utama untuk memperdalam pasar keuangan Indonesia dan mendorong pertumbuhan yang inklusif. Pandangan ini disampaikan dalam salah satu sesi diskusi paling menarik pada rangkaian Indonesia Economic Summit (IES) 2026, yang menekankan agar fokus ke depan bukan hanya pada perluasan industri syariah, tetapi juga pada kualitas pembiayaan yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi ekonomi tanah air.

Penekanan pada Pendalaman Pasar Lewat Keuangan Syariah Berkelanjutan

Dalam diskusi bertema “Islamic Sustainable Finance for Deepening Markets and Advancing Inclusive Growth”, penyelenggara menyoroti pentingnya praktik keuangan syariah yang tidak hanya perluasan volume tetapi juga penciptaan nilai ekonomi jangka panjang. Acara ini diadakan oleh Indonesian Business Council (IBC) bersama Global Ethical Finance Initiative (GEFI) pada Rabu, 4 Februari 2026 di Jakarta.

Chief Operating Officer IBC, William Sabandar, secara tegas menegaskan bahwa keunikan keuangan syariah berada pada prinsip etika, keterbukaan, dan hubungan erat dengan sektor riil. Ia menyatakan bahwa tantangan selanjutnya bukan sekadar memperbesar skala industri, tetapi memastikan fungsi keuangan syariah memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian. Dalam diskusinya, William menekankan:

"Pendalaman pasar perlu dibarengi dengan kualitas pembiayaan yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan."

Pernyataan ini mencerminkan kesadaran akan kebutuhan pembiayaan yang tidak hanya besar, tetapi berkualitas tinggi, efektif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi menyeluruh.

Potensi Ekonomi Syariah dalam Kontribusinya ke PDB

Beberapa data dan indikator menunjukkan bahwa sektor ekonomi syariah memang memiliki potensi besar untuk menyumbang pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sektor ini mencakup berbagai bidang seperti industri makanan dan minuman halal, fesyen muslim, pariwisata, hingga pertanian — yang semuanya menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Dalam konteks global, Dame Susan Rice, Chair of Global Steering Group GEFI, mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan Islamic Sustainable Finance di kawasan Asia, bahkan internasional. Ia menekankan bahwa prinsip-prinsip keuangan syariah sangat sejalan dengan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sehingga dapat menarik perhatian investor asing, terutama di masa ketika kebutuhan pembiayaan hijau semakin mendesak.

Dengan kondisi global yang menuntut praktik keuangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, keuangan syariah jadi semakin relevan dalam menarik modal jangka panjang yang stabil dan etis.

Diskusi Multi-Stakeholder untuk Kebijakan dan Instrumen Baru

Selain pandangan akademis dan teoretis, diskusi di IES 2026 juga menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor regulator, pelaku industri, hingga pihak internasional. Nama-nama yang hadir mencakup:

Iman Rachman dari Bursa Efek Indonesia

Dadang Muljawan dari Bank Indonesia

Dian Ediana Rae dari OJK

Masyita Crystallin dari Kementerian Keuangan

Harman Subakat dari Paragon Group

Omar Shaikh dari GEFI

Diskusi menyentuh berbagai isu strategis seperti:

Pengembangan instrumen pasar modal syariah terbarukan

Peran sustainability sukuk

Pemanfaatan blended finance

Dukungan keuangan syariah dalam transisi ke ekonomi hijau dan inklusif

Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa permasalahan keuangan syariah saat ini bukan hanya domain satu sektor saja, tetapi memerlukan keterlibatan lintas lembaga dan pelaku usaha untuk memastikan implementasi yang efektif.

Kolaborasi Strategis Memperluas Jejak Keuangan Syariah

Sebagai langkah konkret pasca diskusi tersebut, IBC dan GEFI menyepakati untuk memperkuat kerja sama strategis guna mempercepat pengembangan keuangan syariah berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi ini bukan hanya retoris, tetapi diharapkan menjadi fondasi untuk memperdalam pasar keuangan nasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem keuangan syariah global.

Dalam jangka panjang, kebijakan dan kolaborasi strategis ini dipandang penting dalam menghadapi persaingan global dan menciptakan lingkungan keuangan yang lebih tangguh, efisien, dan inklusif. Hal ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia yang menunjukkan tren positif seiring dengan sinergi kebijakan dan pengembangan instrumen baru di sektor ini.

Keuangan Syariah sebagai Pilar Inklusivitas Ekonomi

Peran keuangan syariah tidak hanya berfokus pada aspek pembiayaan, tetapi juga pada penguatan ekonomi inklusif. Dengan landasan nilai etika dan keberlanjutan, sistem ini dinilai mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat dan sektor usaha yang selama ini kurang tersentuh oleh pembiayaan konvensional.

Pendekatan seperti ini juga mendukung berbagai inisiatif inklusi finansial dan pemberdayaan ekonomi umat. Hal ini kemudian menguatkan posisi Indonesia sebagai negara dengan potensi besarnya dalam pengembangan keuangan syariah secara berkelanjutan.

Dengan demikian, IES 2026 menegaskan posisi keuangan syariah berkelanjutan sebagai kunci dalam memperdalam pasar keuangan nasional, menarik investor global, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab serta inklusif — sekaligus membuka ruang strategis Indonesia di kancah keuangan syariah dunia.

Terkini