Kemandirian Semikonduktor Indonesia Dimulai dari Chip dan SDM Unggul

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:45:47 WIB

JAKARTA - Upaya pemerintah Indonesia dalam membangun kemandirian industri semikonduktor kini semakin kuat. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa fokus pengembangan tidak lagi sekadar menjadi slogan, tetapi dijadikan strategi praktis melalui penguatan fondasi utama: desain chip dan sumber daya manusia (SDM). Menurut Agus, dua pilar ini menjadi titik awal yang paling realistis bagi Indonesia untuk mengejar kemandirian di tengah dominasi negara lain dalam rantai pasok semikonduktor global.

Pendekatan tersebut dipandang esensial karena industri semikonduktor merupakan sektor strategis yang menopang berbagai industri prioritas, mulai dari elektronik hingga otomotif dan sistem digital yang semakin berkembang pesat. Pemerintah melihat bahwa tanpa kapabilitas desain dan talenta yang andal, Indonesia akan kesulitan untuk keluar dari ketergantungan impor semikonduktor yang tinggi selama ini.

Ecosystem Semikonduktor: Tantangan dan Peluang

Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah pondasi dalam ekosistem semikonduktor, meskipun masih jauh dari lengkap. Di antaranya adalah fasilitas perakitan dan pengujian yang sudah terhubung dengan Global Value Chain (GVC), keberadaan perusahaan desain integrated circuit, serta basis industri hilir seperti electronic manufacturing services (EMS) dan original equipment manufacturer (OEM). Bahkan, sektor otomotif nasional terus tumbuh dan menjadi pengguna besar komponen semikonduktor, terutama pada kendaraan listrik dan hybrid yang membutuhkan tiga kali lebih banyak semikonduktor dibanding kendaraan konvensional.

Namun, tantangan terbesar tetap pada ketergantungan yang tinggi terhadap impor semikonduktor. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat hampir dua kali lipat, dari US$ 2,33 miliar pada 2020 menjadi US$ 4,87 miliar pada periode Januari–November 2025. Hal ini menjadi salah satu sinyal penting bahwa Indonesia perlu merespons dengan strategi jangka panjang yang konkret untuk memperkuat ekosistem dalam negeri.

Talenta dan Desain Chip: Fondasi Utama

Menperin Agus Gumiwang menekankan bahwa pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan. Langkah awal yang dipilih pemerintah adalah menguatkan talenta dan kemampuan desain chip terlebih dahulu, sebagai langkah fundamental dalam pembangunan ekosistem semikonduktor yang lebih besar. Menurutnya, pendekatan ini realistis dan memungkinkan Indonesia membangun kemampuan internal secara bertahap menuju kemandirian teknologi.

Ini berarti investasi besar dalam pendidikan, pelatihan, riset, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan dunia akademik. Fokus pada pengembangan tenaga ahli lokal diharapkan mampu mencetak generasi yang kompeten dalam bidang desain semikonduktor dan inovasi teknologi tinggi. Strategi ini juga dilandasi pemahaman bahwa produksi semikonduktor tanpa kemampuan desain lokal hanya akan membuat Indonesia tetap berada di posisi lemah dalam rantai nilai global.

Peta Jalan Semikonduktor dan Kolaborasi Multi-Pihak

Untuk mengimplementasikan strategi tersebut, Kementerian Perindustrian telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri semikonduktor nasional. Roadmap ini mencakup penguatan empat pilar utama, yaitu material, desain, fabrikasi (front end), serta assembly-testing-packaging (back end), yang semuanya ditopang oleh pengembangan SDM, riset dan inovasi, infrastruktur, serta kebijakan industri yang kondusif.

Peta jalan ini bukan hanya sekadar dokumen kebijakan, tetapi menjadi basis strategis agar Indonesia dapat berperan aktif dalam rantai pasok global. Komitmen untuk tidak hanya mengejar investasi tetapi juga menciptakan nilai tambah nasional menandai arah kebijakan pemerintah dalam jangka panjang. Agus menyatakan bahwa ini akan membantu Indonesia memperkuat kemandirian teknologi dan memastikan integrasi yang berkelanjutan pada ekosistem semikonduktor dunia.

Selain itu, Kemenperin mendorong pembentukan organisasi nonprofit bernama Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) sebagai simpul kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas desain chip. Inisiatif ini diprakarsai bersama PT Hartono Istana Teknologi dan para pakar desain chip dari 13 universitas, serta didukung oleh 16 perguruan tinggi mitra. ICDEC diharapkan menjadi wadah penguatan kapasitas nasional dalam desain semikonduktor.

Momentum ISS 2026 dan Arah Kebijakan Indonesia

Penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Bandung dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi global dan mendorong alih teknologi dalam industri semikonduktor nasional. Acara ini menjadi forum penting untuk menggaet dukungan dari berbagai pemangku kepentingan internasional dan domestik, mempercepat inovasi, serta meningkatkan kapasitas industri dalam menghadapi persaingan global.

Dalam konteks ini, pemerintah juga terus mendorong sinergi antara sektor industri, riset, dan pendidikan untuk memperkuat daya saing industri manufaktur secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan agenda transformasi digital nasional yang menuntut kemampuan teknologi tinggi semakin cepat dan masif dalam berbagai sektor ekonomi.

Roadmap Menuju Kemandirian Teknologi

Kebijakan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian menunjukkan arah yang jelas: untuk membangun kemandirian semikonduktor nasional, fokus harus dimulai dari pengembangan desain chip dan SDM unggul. Dengan fondasi ini, Indonesia berharap bukan hanya menjadi pengguna teknologi semikonduktor, tetapi juga menjadi kontributor global dalam rantai pasok komponen strategis ini.

Pendekatan bertahap dan realistis, dukungan kebijakan yang kuat, serta kolaborasi multi-pihak menjadi kunci dari upaya ini. Pergeseran fokus dari sekadar memproduksi menjadi menciptakan dan merancang teknologi adalah langkah penting yang dapat membawa Indonesia ke posisi baru dalam persaingan global teknologi tinggi.

Terkini