Bahlil Lahadalia Targetkan 500.000 Rumah Mendapat Listrik Baru pada 2026

Jumat, 23 Januari 2026 | 13:59:40 WIB
Bahlil Lahadalia Targetkan 500.000 Rumah Mendapat Listrik Baru pada 2026

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana ambisius untuk memperluas Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) pada 2026. 

Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI yang digelar, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan pemasangan listrik untuk 500.000 rumah tangga pada tahun ini, sebuah kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 200.000 rumah tangga.

Program ini bertujuan untuk mendekatkan akses listrik ke rumah tangga di seluruh Indonesia, terutama yang berada di daerah terpencil, yang masih kesulitan mendapatkan pasokan listrik.

Mengapa BPBL Diperluas?

Kenaikan target jumlah rumah yang mendapatkan bantuan pasang baru listrik tersebut tidak lepas dari dorongan anggota Komisi XII DPR RI yang menginginkan program ini berjalan lebih luas dan cepat. "2026 berapa? Itu berapa? 200 ribu atau 300 ribu? Naikkan menjadi 500 ribu," ujar Bahlil menanggapi permintaan tersebut. 

Ia juga menyebutkan pentingnya kolaborasi antara Komisi XII DPR dan Kementerian ESDM agar program ini tepat sasaran dan mencapai target yang telah ditetapkan.

Program BPBL memang menjadi salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan angka elektrifikasi di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau jaringan listrik. Dengan peningkatan target ini, Bahlil berharap dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan listrik yang masih sangat besar di daerah-daerah tertentu.

Bahlil Lahadalia: Kegagalan jika Listrik Belum Menjangkau Semua Desa

Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ia tidak akan merasa sukses jika masih ada desa atau kelurahan di Indonesia yang belum teraliri listrik. "Kalau boleh jujur, saya merasa Insya Allah sampai selesai menjadi kabinet sukses, kalau semua desa-desa, lurah-lurah itu semua diairi dengan listrik semuanya," ungkap Bahlil dalam rapat kerja tersebut. 

Baginya, meskipun capaian target lain, seperti lifting minyak dan gas bumi, tercapai, namun akses listrik yang belum merata di seluruh Indonesia tetap menjadi kegagalan besar bagi dirinya sebagai Menteri ESDM.

Pernyataan tersebut mencerminkan tekad Bahlil untuk menjadikan pemerataan listrik sebagai prioritas utamanya. Dia menganggap, meskipun banyak program pembangunan lain yang berjalan, ketimpangan infrastruktur dasar, seperti listrik, masih menjadi masalah yang besar. 

Bahlil menekankan bahwa akses terhadap listrik adalah hal mendasar yang harus dirasakan oleh setiap warga negara, tanpa terkecuali.

Ketimpangan Infrastruktur Dasar di Indonesia

Meski Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun, Bahlil menyoroti ketimpangan yang masih ada dalam hal akses terhadap infrastruktur dasar, terutama listrik. 

Di banyak wilayah, terutama di daerah-daerah terpencil dan pelosok, masyarakat masih harus bergantung pada sumber energi alternatif, seperti lampu pelita, untuk menerangi rumah mereka. Bahlil sendiri mengungkapkan pengalaman masa kecilnya yang tumbuh di desa tanpa listrik.

 “Saya pernah belajar dengan menggunakan lampu pelita, sampai wajah saya hitam,” kenang Bahlil.

Pengalaman tersebut menyadarkan Bahlil akan pentingnya akses listrik bagi kesejahteraan masyarakat. "Masyarakat kita masih banyak yang hidup dalam kegelapan," kata Bahlil, menambahkan bahwa ketidakmerataan akses listrik ini harus segera diatasi agar Indonesia dapat menjadi negara yang benar-benar merdeka dalam segala aspek, termasuk dalam hal energi.

Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL): Solusi untuk Warga Terpencil

Program BPBL yang diluncurkan pemerintah ini bertujuan untuk memberikan bantuan pemasangan listrik kepada rumah tangga yang belum terjangkau oleh jaringan PLN.

Dalam program ini, pemerintah menyediakan bantuan berupa biaya pemasangan listrik yang lebih terjangkau untuk rumah tangga yang berada di wilayah yang selama ini sulit dijangkau oleh layanan PLN. Dengan adanya BPBL, masyarakat yang sebelumnya tidak mampu membayar biaya pemasangan listrik, kini dapat menikmati layanan listrik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Pemasangan listrik tidak hanya sekadar memberi penerangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi masyarakat. Listrik menjadi dasar bagi banyak aktivitas ekonomi, seperti usaha kecil, pendidikan, dan kesehatan. 

Keberadaan listrik di rumah tangga juga memungkinkan masyarakat untuk mengakses informasi dan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Proyeksi Pencapaian BPBL pada 2026

Dengan kenaikan target hingga 500.000 rumah pada 2026, Bahlil berharap program ini dapat mempercepat pencapaian target elektrifikasi nasional yang selama ini menjadi tantangan besar. 

Berdasarkan data yang ada, meskipun Indonesia sudah mengalami kemajuan dalam hal elektrifikasi, namun masih ada sekitar 10 juta rumah tangga yang belum mendapatkan akses listrik. Program BPBL diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini.

Bahlil juga berharap agar target 500.000 rumah tangga yang akan mendapatkan listrik pada tahun ini dapat tercapai dengan bantuan berbagai pihak, termasuk Komisi XII DPR RI, yang berperan dalam mengawal program ini. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan DPR, program BPBL dapat berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.

Tantangan ke Depan: Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia

Meskipun program BPBL memiliki potensi yang besar, tantangan terbesar ke depannya adalah pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengalirkan listrik ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. 

Bahlil menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor energi, khususnya yang berkaitan dengan teknisi dan tenaga kerja yang akan terlibat dalam program ini. Keberhasilan BPBL juga sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan SDM yang memadai.

Selain itu, tantangan geografis juga menjadi kendala besar dalam penyediaan listrik ke daerah-daerah terpencil. Beberapa daerah di Indonesia masih memiliki medan yang sulit dijangkau dan memerlukan biaya tinggi untuk pembangunan infrastruktur listrik. 

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk melakukan pendekatan yang lebih fleksibel dan efektif dalam menangani masalah ini.

Harapan untuk Masa Depan yang Terang

Dengan adanya rencana untuk menambah target Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) pada 2026 menjadi 500.000 rumah tangga, diharapkan semakin banyak masyarakat di daerah terpencil yang dapat menikmati akses listrik. 

Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa akses listrik adalah hak dasar yang harus dinikmati oleh setiap warga negara. 

Baginya, pencapaian target elektrifikasi adalah ukuran keberhasilan, dan ketimpangan infrastruktur dasar, seperti listrik, harus segera diatasi agar Indonesia dapat tumbuh menjadi negara yang lebih maju dan merata.

Terkini