JAKARTA -Dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik dan mengatasi tekanan eksternal, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75%.
Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada bulan Januari 2026. Keputusan ini diambil meskipun nilai tukar rupiah terus menunjukkan volatilitas dan ketidakpastian global yang semakin meningkat.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa keputusan tersebut sejalan dengan fokus kebijakan yang saat ini tengah dijalankan oleh bank sentral, yaitu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.
"Keputusan ini juga bertujuan mendukung target inflasi 2026-2027 dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Perry.
Kebijakan ini datang di tengah situasi yang cukup sulit, di mana nilai tukar rupiah mengalami sedikit pelemahan pada perdagangan hari Selasa, 20 Januari 2026.
Rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS, melemah tipis 0,01% atau 68 poin. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada penguatan kecil dalam sektor ekonomi domestik, ketidakpastian global yang melanda pasar terus memberi dampak terhadap nilai tukar rupiah.
Tekanan Global dan Tantangan Ekonomi Domestik
Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan pada level yang sama sudah diprediksi sebelumnya oleh banyak ekonom.
Hal ini dipandang sebagai langkah yang realistis mengingat kondisi perekonomian yang masih cukup rentan terhadap faktor-faktor eksternal, seperti ketidakpastian pasar global dan tekanan terhadap rupiah.
Pada saat yang bersamaan, indeks dolar AS juga tercatat melemah 0,74% ke level 98,66.
Meskipun indeks dolar AS mengalami pelemahan, ketegangan dalam perekonomian global serta kekhawatiran tentang kesinambungan fiskal di beberapa negara besar menjadi alasan utama mengapa Bank Indonesia memilih untuk tidak mengambil langkah yang lebih agresif dalam menurunkan suku bunga.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah yang masih kuat menjadi faktor utama yang membuat BI lebih memilih untuk mempertahankan BI Rate di 4,75%.
“Stabilitas nilai tukar dan pengelolaan ekspektasi inflasi masih menjadi prioritas utama bagi otoritas moneter Indonesia dalam jangka pendek,” katanya.
Mengapa BI Memilih Untuk Menahan Suku Bunga?
Keputusan Bank Indonesia untuk tetap mempertahankan BI Rate di angka 4,75% tidak hanya didorong oleh faktor ketidakpastian eksternal, tetapi juga oleh pentingnya menjaga daya tarik pasar keuangan domestik.
Sebagai salah satu cara untuk menghindari volatilitas lebih lanjut di pasar, BI memilih untuk menghindari langkah-langkah yang dapat meningkatkan ketidakpastian, seperti penurunan suku bunga yang berpotensi memicu lonjakan inflasi atau pelemahan lebih lanjut pada nilai tukar rupiah.
Dalam analisisnya, Josua Pardede mengungkapkan bahwa meskipun ada potensi untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut, namun ruang untuk itu belum terbuka lebar mengingat stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, strategi lain yang bisa dilakukan oleh Bank Indonesia adalah melakukan pelonggaran likuiditas atau penurunan biaya dana jangka pendek tanpa harus mengubah BI Rate.
Fokus Kebijakan Bank Indonesia dan Tantangan Global
Selain menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, BI juga terus fokus pada pemulihan ekonomi pasca-pandemi, yang membutuhkan perhatian serius dalam mengatur arus investasi dan pemulihan sektor-sektor vital.
Pada saat yang bersamaan, meskipun ada prospek positif dari perekonomian domestik, dampak dari ketidakpastian ekonomi global seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter negara maju akan terus memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan Bank Indonesia ke depan.
Ketegangan yang terjadi di pasar global, termasuk isu fiskal dan kebijakan moneter yang ketat dari negara-negara besar, diprediksi akan terus mengganggu kestabilan ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, menjaga kebijakan suku bunga pada level 4,75% diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi pasar domestik dan internasional, yang sangat sensitif terhadap kebijakan bank sentral.
Ke Depan: Apa yang Bisa Diharapkan?
Mempertahankan suku bunga pada level yang sama juga menandakan bahwa Bank Indonesia akan terus memantau situasi dengan cermat, dan keputusan kebijakan moneter selanjutnya akan tergantung pada sejumlah faktor, termasuk perkembangan ekonomi global, stabilitas pasar, dan pencapaian target inflasi.
Sementara itu, para pelaku pasar dan ekonom berpendapat bahwa meskipun penurunan suku bunga belum terbuka lebar dalam waktu dekat, potensi stabilisasi nilai tukar rupiah dan inflasi bisa membuka ruang untuk pengaturan suku bunga yang lebih fleksibel ke depannya.
Namun, untuk saat ini, keputusan BI untuk tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75% adalah langkah yang dianggap tepat di tengah ketidakpastian global.